Akhir-akhir ini, ku selalu ditemani dengan tulisan-tulisan dan teks-teks manuskrip. Asyik ku membacanya kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf. Aku menemui sebuah tanda yang mengingatkanku tentang arti kehidupan dan kesemestaan. Tanda itu adalah "TITIK", titik dalam sebuah tulisan makna yang beragam. Ketika sebuah pena ingin menggariskan kata di atas sebuah kertas maka ujung pena akan membentuk titik terlebih dahulu sebelum membentuk huruf dan kata. Kata kemudian berbaris menjadi kalimat, dan di ujung kalimat ditutup dengan "titik". Begitulah juga kehidupan dan semesta ini, berawal dari "titik" lalu merangkai kata-kata atau dalam kehidupan disebut ikhtiar menuju "titik" kesempurnaan yang kaum beragama menyapanya dengan nama Tuhan.



Titik menghadirkan Keceriaan dan ketenangan pada rintik hujan

Titik menampilkan eksistensinya dalam Pergumulan alam logik

Titik mengejawantahkan kebesarannya dengan estetik

Titik mengajarkan sesuatu dengan cara yang etik

Titik menjaga keteraturan dengan cara yang apik



Bermula dari goresan titik

Melalui kumpulan titi-titik

Menuju sang titik


lo dini hari, 26 Nov 2011
02.33 wita

Berjumpa dengan Waktu

Beberapa hari ini ada kejadian yang menarik bagi saya. Saya seakan mengalami flash back ke beberapa tahun lalu. Kejadian-kejadian yang saya alami seakan memutar jarum waktu ke belakang. Beberapa tahun lalu rutinitas begadang menjadi sebuah aktivitas wajib ku, entah begadang karena kerja tugas kuliah, kajian bersama teman atau diskusi-diskusi dari tema ilmiah sampai seolah ilmiah. Di masa inilah aktivitas 'kalelawar malam' menjadi santapan pokok. Belakangan ini, fenomena tersebut kembali terulang walau dengan konten yang sedikit berbeda, berkenaan dengan literatur lah, borang-borang akreditasi lah atau karena memang mata yang masih ngotot melotot. Situasi ini seakan ingin mempertautkan kejadian beberapa tahun lalu dengan kondisi sekarang walaupun dengan arena yang berbeda.


Dua hari yang lalu ketika bertemu seorang teman yang menjadi salah satu pengurus lembaga kemahasiswaan mengajakku berpartisipasi dalam sebuah forum yang dilaksanakan oleh lembaganya. Ajakan ini juga mengantarkanku mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Di mana diamanahkan mengurus sebuah pranata sosial kampus. Aktivitasnya banyak bersentuhan pada pengembangan Human Capital. Tidak jarang kegiatannya dalam bentuk forum-forum dalam rangka meningkatkan Human Capital tersebut. Rekruitmen dan orientasi anggota sampai hal teknis yang berhubungan dengan agenda tersebut adalah fenomena yang tidak lazim kurasakan. Hari itu si teman kembali membuatku de javu dengan ajakan tersebut walau dengan posisi dan peran yang berbeda.


Tadi siang kusempat bersua dengan seorang dosen sekaligus kuanggap guru di dunia maya, kutanya kabarnya dan beliau menjawab dengan penuh hangat. Beliau kukenal sebagai seorang yang cukup cerdas dan produktif dalam pengembangan intelektual. Gagasan-gagasannya cukup kritis dan holistik dalam memandang sesuatu. Bersyukur saya pernah mendapatkan kelas dia. Model pembelajaran dan penjelasannya sangat menarik dan sistematis. Sosok dan karakternya pun saya sering jumpai pada forum-forum diluar kelas. Pesan-pesannya sering membuat nalar ini bangkit dan terinpirasi serta jiwa jadi tercerahkan. Dialog kami di dunia maya kembali mengingatkan beberapa tahun silam ketika berjumpa dan berdiskusi dengannya. Di akhir dialog sebuah pesan penyemangat tak lupa ia titipkan.

Alhamdulillah yaa,…
Sebuah kata yang bermakna ucap syukur yang sering di ucapkan oleh berbagai orang dan kalangan masyarakat. Tapi mengapa kata itu menjadi sangat fenomenal dan sensasional kita itu keluar dari bibir seorang Syahrini, padahal kata-kata itu sudah bertahun-tahun bahkan ribuan tahun telah di ucapkan oleh para kyai, mubalig, ustaz di mesjid-mesjid, pengajian, dan tempat-tempat lain. Tapi kata-kata dari pemuka agama itu seakan hanya numpang lewat dalam telinga kita. Mungkinkah masyarakat/umat lebih mendengarkan apa yang di ucapkan oleh seorang “Syahrini”..? Mungkinkah masyarakat lebih patuh pada fatwa seorang “Syahrini”..? Entahlah, ini hanya ramalan kerdilku memahami realitas yang terjadi.

Trend ini tidak hanya berlaku pada ungkapan syukur itu, tetapi tergerus dalam hal berbusana. Dalam adab agama islam dikenal istilah Hijab, yang dalam konteks keindonesiaan dinamakan jilbab. Sebagian kaum hawa seakan juga terimani dengan sebuah mode hijab ala “syahrini”, padahal sejak lama para agamawan telah mendakwahkan akan makna penting dan luhurnya hijab. Mungkin hijab ala “Syahrini” jauh lebih luhur dan bermakna sehingga sebagian kaum hawa langsung mengimani dan mengikutinya. Dakwah hijab ala “Syahrini” dengan hanya muncul di media seakan merasuk dalam batin umat terkhusus kaum hawa mengalahkan dakwah seorang kyai yang berkali-kali muncul di tengah masyarakat dengan ayat-ayat sucinya. Terlepas akan pemahaman akan makna religiusitas sebuah hijab, hijab ala “Syahrini” telah mendapatkan jamaahnya sendiri. Apakah mereka berjilbab karena ridho atau idol, hanya mereka dan tuhannya yang mengetahui.

Mode made in “Syahrini”
Makasih syahrini telah “menjilbabkan” kaum hawa dan mengalahkan para “jenggoters”

HMI dalam tafsir Marketing

Organisasi yang didirikan di kota pelajar yang berdiri 5 februari 1947 ini tidak dapat dipungkiri memegang peranan yang cukup besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hal yang bermula dari keinginan pelajar/mahasiswa islam yang ingin berhimpun dalam satu wadah, dan hal ini ditangkap oleh Lafran Pane dan kawan-kawan pada saat itu.Sejalan dengan perkembangannya HMI menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar, sumbangsih pemikiran telah banyak dilahirkan oleh kader HMI dalam perjalanan bangsa ini. Hal ini menunjukkan power dari organisasi hijau hitam ini (tapi tak pake laras). Mungkin hal ini dilandasi dari misi yang diemban oleh HMI yaitu keislaman,keumatan,dan kebangsaan ataupun tujuan insan citanya. Nama besar HMI meroket dalam perjalanan bangsa ini seiring dengan pemikiran-pemikiran besar yang lahir dari rahim hijau hitam.

Terlepas dari kebesaran HMI secara umum, HMI juga mendapat ruang ditengah para mahasiswa sehingga menempatkannya menjadi salah satu organ terbesar dalam dunia kampus. Tapi penulis melihat bahwa kebesaran HMI bukan karena ia adalah organisasi mahasiswa tertua di Indonesia tetapi HMI ternyata dapat membaca konteks/market yang ada dalam dunia kampus sehingga dapat diterima oleh kaum intelektual.

Seperti yang kita ketahui bahwa kampus yang identik dengan pendekatan rasionalis,kritis,analitis dan objektif membuat HMI menggunakan pola itu untuk memenangkan pasar(baca:Mahasiswa). Kaum intelektual pun sangat menyambut hal ini karena dapat membantu mereka dalam dunia kampus yang menuntut adanya daya kritis dan analisis rasional. Ungkapan dalam pemasaran bahwa kita harus mengetahui apa keinginan pasar sangat ditangkap betul oleh HMI sehingga menjadikannya sebagai Market Leader dalam pasar kaum intelektual kampus. HMI betul-betul menempatkan kaum intelektual sebagai segmentasi pasar yang efektif untuk mendakwahkan nilainya.

Dunia kampus yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan buku sebagai simbolnya merupakan salah satu ciri pasar yang dilihat oleh HMI dan coba untuk diekspansinya. HMI memanfaatkan beberapa elemen pemasaran (segmentasi, targeting, positioning, process, differentiation, brand), dari segi segmentasi jelas HMI jelas fokus pada kaum intelektual/mahasiswa, sedangkan dari segi targeting adalah terkhusus mahasiswa islam, sedangkan dari sisi positioning HMI menjadi leader dalam beberapa great market/kampus. Pada segi process dalam elemen marketing, organisasi hijau hitam ini memiliki jenjang proses yang sangat terstruktur dan sistematis baik dalam hal keanggotaan maupun dalam pengkaderan. Hal ini memperjelas bahwa dari aspek proses cukup terkontrol. Dari segi differentiation, HMI memiliki tiga value yaitu himpunan/keorganisasian, mahasiswa/kemahasiswaan, dan islam/keislaman. Jika sebagian organ kampus hanya memiliki 2 value yang pertama maka value keislaman inilah yang menjadi sesuatu yang berbeda dengan organ kemahasiswaan lainnya. Hal lain yang yang membuat mengapa menjadikannya sebagai market leader kampus adalah kekuatan brand, sebagai organisasi kemahasiswaan tertua menjadikan HMI memiliki branding intelektualitas sampai akhirnya berkembang menjadi brand loyalty dan emotional brand organisasi bagi sebagian anggotanya. Tidak heran jika banyak kader tulen yang merasa darahnya telah berubah menjadi hijau hitam karena aspek loyalitas dan emosional terhadap merek/brand. HMI sangat jeli menawarkan produk dalam hal ini pendekatan rasional,kritis,pengetahuan yang notabene sangat dibutuhkan oleh para konsumen (baca: mahasiswa) .Sehingga tidak salah kalau HMI dalam dunia kampus menjadi barang lux (berharga) yang siap diperebutkan oleh para pelanggan.

Pola pendekatan rasionalitas dan intelektualitas di tengah pasar/kampus yang menggunakan metode tersebut membuat HMI memiliki strategi keunggulan bersaing differensial yang tidak dimiliki oleh elemen lain yang menggunakan metode lain misal skriptual,tekstual dan lain-lain.Hal inilah yang menjadikan HMI mendapat tempat di tengah pasar/kampus yang plural. Strategi pemasaran yang diterapkan HMI menjadikannya sebagai kebutuhan primer atau salah satu sembako yang mendesak untuk dimiliki oleh pelanggan dalam segmen kampus.

Sekali lagi bahwa penulis mencoba melihat kebesaran dan tumbuh suburnya HMI di dunia kampus dari sudut pandang yang lain tanpa mengesampingkan bahwa ada misi dan tujuan insan cita dalam konteks keumatan dan kebangsaan serta hal-hal besar yang telah disumbangkan HMI bagi bangsa dan Negara. Hal ini juga untuk refleksi atas kondisi ke-HMI-an.


Sebuah Kado keciL,

Selamat MiLad Hijau Hitam, 5 Februari 2011

Pikir tidak (f)akir

Dalam suatu malam di sudut kamar yang mungil, tempat yang selalu setia menemaniku menampung semua kegelisahan, kesedihan, kebahagiaan dan kerisauan berkecamuk. Di sinilah seluruh gelayut nalar bertarung dalam medan pertempuran yang tak bertepi, di sinilah angan-angan itu berawal dan mengantarkan ku pada puncak ekstase epistemic. Di sinilah planning akan sebuah menara zaman akan di bangun. Entah mengapa nalar tersebut terus menjangkitiku seluruh bayang pikiranku. Logika ini selalu saja menggodaku tuk selalu mengejarnya, seakan menunjukkan bahwa di ujung lorong terdapat cahaya terang yang menanti.

Isyarat alam selalu mengetuk dinding nalarku untuk tak berdiam dalam tempurung, dan selalu mengajakku berkelana bak musafir di tengah padang pasir yang begitu luas. Semua sorotan mata adalah arena dalam mempertautkan intelegensia itu. Mungkin ini adalah kemestian alamiah seorang makhluk tuhan, sesuai dengan pesan salah satu manuskrip umat manusia yang mengatakan “sesungguhnya pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda bagi orang yang berfikir”. Dan mungkin ini salah satu jawaban relevansi antara teks dan konteks. Salah satu kedahsyatan daya ini adalah sumber dari segala peradaban umat manusia, seluruh peradaban harus melalui racikan sang daya. Tak salah jika muncul stigma bahwa “apa yang engkau kerjakan adalah apa yang engkau pikirkan”.

Kekuatan yang merdeka ini seakan terus menyeruak dalam tempurung kepala, seolah-olah ingin menegaskan peran dan posisinya dalam realitas ini. Ia ingin kita mengendarainya dan mengantarkan ke mana saja sang tuannya menuju tempat tujuan. Ia bak mercusuar yang selalu mengamati mengawasi lautan untuk menemukan sebuah makna dari setiap entitas. Nalar mu sangat kaya dan terhormat maka jaga dan rawatlah dia. Bangunlah revolusi sejak dalam pikiran.

Masih segar dalam ingatan kita tragedi Tanjung Priok 14 April 2010. Sebuah peristiwa yang sangat melukai aspek kemanusiaan kita. Sebuah kompleks makam seorang ulama Habib Hasan Bin Muhammad Al-Haddad yang sangat di hormati coba untuk di gusur. Lokasi makam memang berada pada daerah yang memiliki nilai ekonomi. Jalur keluar masuknya kontainer/peti kemas dalam sebuah perdagangan membuatnya sangat strategis. Tapi usaha itu harus berhadapan dengan sejarah religius, emosi kultural leluhur yang mendarah daging dalam masyarakat. Sehingga jika nilai yang di pahami oleh masyarakat ini di ganggu maka masyarakat akan terusik. Lokasi Tanjung Priok inilah yang menjadi saksi dua entitas nilai yang saling bertabrakan, di satu sisi nilai ekonomisnya yang sangat tinggi dan di sisi lain nilai kultural religiusnya yang sangat mendalam.

Kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi, masih terbayang juga dalam pikiran kita peristiwa yang menimpa rakyat palestina. Banyak masyarakat yang meninggal hanya untuk meyakini bahwa ini adalah tanah leluhurnya yang penuh dengan nilai historis religius. Konflik yang berlangsung puluhan tahun ini untuk memperebutkan pengakuan akan sebuah wilayah yang memiliki nilai historis religius yang sangat tinggi.

Mungkin kita juga masih ingat bagaiman film Naga Bonar Jadi 2 yang mengisahkan cerita tentang hubungan Naga Bonar (Deddy Mizwar) dan putranya, Bonaga (Tora Sudiro) dalam suasana kehidupan anak muda metropolis. Untuk memulai bisnis, Bonaga berniat menjual tanah milik ayahnya yang disana terletak kuburan keluarga Naga Bonar. Akhirnya timbul konflik perbedaan nilai diantara mereka.

Pesan Bung Karno: Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH)

Langit itu Biru

Setiap masyarakat memiliki pengharapan akan suatu kondisi yang di cita-citakan, misalnya sebuah negara menginginkan masyarakat yang adil dan makmur, sebuah bangsa menginginkan sebuah kesejahteraan. Kondisi yang di cita-citakan ini biasanya di simbolkan dengan sesuatu. Hal ini sesuai dengan teori semiotika bahwa setiap simbol memiliki makna. Pada umumnya kondisi ideal ini di simbolkan dengan "Langit". Kata "Langit" ini memiliki keistimewaan makna. Pertama, Langit dalam pahaman masyarakat kita adalah kondisi tertinggi atau puncak, sehingga tidak heran banyak masyarakat bahwa pengharapan yang tertinggi ada di atas langit. Muncullah istilah Dewa Langit dan langit ke tujuh. Kedua, langit bisa menimbulkan 2 kondisi, bisa cerah atau mendung. Cerah bisa di maknai sebagai suatu pengharapan dan mendung bisa dimaknai bahwa cuaca yang buruk yang bisa mengakibatkan badai.

Dari perspektif tadi, jika kita ingin melihat pada ruang sosiologis maka langit yang cerah adalah suatu hal yang mimpikan. Kalau memakai pendekatan semiotika maka "Langit Biru" adalah simbol yang bisa di gunakan untuk memaknai kondisi tersebut. Dalam ranah sosial kondisi "langit" ini bisa dikondisikan, apakah para penyanggah langit menginginkan cerah atau mendung. Jika kondisi "Langit Biru" yang ingin di capai maka seluruh penyanggah yang di naungi oleh langit tersebut harus berusaha menciptakan kondisi sehingga langit itu tetap biru, karena kita menginginkan sebuah kondisi yang ideal maka menjadi harga mati bahwa langit itu harus tetap biru. Kita tak ingin cuaca buruk datang dan membuat langit kita menjadi mendung, karena mendung berarti badai akan datang menerpa.

"Langit Biru" adalah kondisi di mana kita dapat beraktivitas dan berkreasi. Langit adalah simbolitas pengharapan akan suatu kondisi dan Biru adalah simbolitas kondisi yang di harapkan.

Mendung itu pasti ada tapi mendung tak mesti menghadirkan badai, sehingga langit biru itu harus muncul untuk menjawab bahwa badai takkan datang,

Mari menyanggah langit itu tetap BIROE...

Sebuah refleksi dan persembahan buat birunya IMMAJ


 

Original Blogger Template | Modified by Blogger Whore